Peta Sebaran Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia 2019

Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Pusfatja LAPAN) merilis Peta Sebaran Daerah Terbakar Indonesia Periode Januari – November 2019.

Peta Sebaran Area Terbakar Indonesia Periode Januari – November 2019 yang dipublikasikan oleh Pusfatja LAPAN pada 3 Januari 2020 ini merupakan hasil analisis berdasarkan kombinasi data radar dan optis. Data radar menggunakan Citra Satelit Sentinel 1A metode change detection polarisasi VH sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran, sementara data optis menggunakan data Citra Satelit Landsat8 metode dNBR (delta Normalized Burn Ratio) dari citra sebelum dan sesudah terjadinya kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

Peta Data Kebakaran Hutan Lahan

Penelitian burned area memanfaatkan data radar citra satelit dengan cara mengamati hamburan balik pada synthetic aperture radar (SAR) C-band Sentinel-1A. Nilai hamburan balik bisa diketahui dengan metode dua polarisasi yakni VH (Vertical-Horizontal) dan VV (Vertical-Vertical). Dari beberapa acuan penelitian yang menggunakan Sentinel-1A dengan metode deteksi perubahan dua polarisasi ini, menunjukkan bahwa nilai hamburan balik sistematis dari kondisi pengamatan citra satelit sebelum kebakaran dan setelah kebakaran, polarisasi VH lebih sensitif terhadap efek api permukaan daripada polarisasi VV.

Gambar diambil dari UN-Spider.org

Baca Juga >> Peta Animasi Citra Satelit Kebakaran Hutan Di Australia

Metode penelitian menggunakan data optis dari Citra Landsat-8 digunakan untuk mengetahui perbedaan vegetasi yang sehat dan yang rusak yang bisa ditunjukkan dari pantulan gelombang panjang inframerah dekat (NIR) dan gelombang pendek inframerah (SWIR). Jika pantulan gelombang tinggi pada nilai NIR dan nila rendah pada SWIR maka vegetasi tersebut sehat, jika vegetasi telah rusak terdampak api maka menunjukkan nilai pantulan gelombang sebaliknya dari nilai pantulan gelombang vegerasi sehat.

Metode dNBR (delta Normalized Burn Ratio) digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan akibat kebakaran hutan dan lahan. Sebelumnya, nilai NBR harus diketahui terlebih dahulu sebelum bisa mengetahui tingkat kerusakannya. Nilai NBR (Normalized Burn Ratio) yang tinggi menunjukkan vegetasi yang sehat sementara nilai yang rendah menunjukkan tanah kosong dan area yang baru terbakar. Area yang tidak terbakar biasanya dikaitkan dengan nilai yang mendekati nol.

Rumus Menghitung Nilai NBR (Normalized Burn Ratio)

Perbedaan nilai antara NBR sebelum kebakaran lahan dan setelah kebakaran lahan yang diperoleh, digunakan untuk menghitung delta NBR (dNBR atau ∆NBR). Nilai dNBR untuk mengetahui tingkat kerusakannya. Nilai dNBR yang lebih tinggi menunjukkan kerusakan yang lebih parah, sementara area dengan nilai dNBR negatif dapat mengindikasikan pertumbuhan vegetasi kembali setelah kebakaran. Rumus yang digunakan untuk menghitung dNBR diilustrasikan di bawah ini:

Rumus Menghitung Nilai dNBR (delta Normalized Burn Ratio)

Baca Juga >> Peta Zona Rentan Likuefaksi Seluruh Provinsi Di Indonesia

Data Luas Area Kebakaran Hutan dan Lahan 2019

Hasil analisis menggunakan citra satelit Sentinel 1A dan Landsat-8 oleh Pusfatja Lapan menghasilkan data luas area kebakaran hutan dan lahan seluruh Indonesia 2019 sesuai nilai atribut dari data spasial yang diperoleh, yakni 884.414 Hektar. Aplikasi Monitoring Sistem Kebakaran Hutan dan Lahan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu SIPONGI juga menghitung luas burned area Indonesia setiap tahunnya. Namun untuk karhutla 2019 seluruh Indonesia, KLHK belum menyediakan data spasial yang bisa di download bebas sebagai acuan data resmi, yang biasanya tersedia di Rest Service Geoportal KemenLHK.

Sebagai perbandingan, data rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan Indonesia pada tahun 2019 yang ditampilkan dalam situs SIPONGI, totalnya adalah 1.592.010 Hektar. Ternyata selisih luas area terbakar seluruh Indonesia pada 2019 sangat signifikan saat dibandingkan antara hasil yang diperoleh antara Pusfatja LAPAN dengan yang ditampilkan pada laman web SIPONGI KLHK. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan sumber data yang digunakan atau karena perbedaan metode analisa penentuan area terbakar.

Anda bisa download data spasial sebaran kebakaran hutan dan lahan seluruh Indonesia hasil penelitian Pusfatja LAPAN dalam beberapa tipe format, diantaranya SHP, KML, GeoJSON, GML dan beberapa tipe dalam format raster melalui link di bawah ini.

DOWNLOAD : PETA SEBARAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN INDONESIA 2019