Citra Satelit Gunung Anak Krakatau Sebelum dan Sesudah Tsunami Selat Sunda

Citra Satelit ALOS-2 dan Sentinel 1A merekam runtuhnya lereng Gunung Anak Krakatau yang di duga menjadi penyebab tsunami di Banten dan Lampung

Geotekno.com – Tsunami yang terjadi pada 22 Desember 2018 di pesisir Banten dan Lampung telah merenggut ratusan korban. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Humas-nya, Sutopo Purwo Nugroho menunjukkan dua rekaman citra satelit ALOS-2, yakni tanggal 20 Agustus 2018 (sebelum tsunami) dan tanggal 24 Desember 2018 (setelah tsunami).

Dari dua tanggal rekaman citra satelit ALOS-2 tersebut bisa di identifikasi, erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari terjadinya tsunami di pesisir Banten dan Lampung, telah menyebabkan runtuhnya lereng gunung tersebut. Runtuhan lereng yang diperkirakan mencapai 64 hektare itu meluncur deras ke lautan dan di duga kuat menjadi penyebab terjadinya tsunami. (lihat lingkaran merah pada gambar diatas)

Citra satelit Sentinel -1A juga merekam runtuhnya lereng baratdaya Gunung Anak Krakatau akibat erupsi pada hari terjadinya tsunami di pesisir Selat Sunda dan Lampung. Gambar Citra satelit Sentinel – 1A diatas adalah rekaman tanggal 23 Desember 2018 pukul 05.33 WIB atau pagi hari setelah tsunami yang menerjang kawasan wisata Anyer dan pesisir Pandeglang Banten, hingga menyebabkan ratusan korban meninggal dunia.

BPPT, LIPI, Badan Geologi, BMKG dan Kemenko Kemaritiman dalam siaran pers-nya menyebutkan, bahwa bencana tsunami yang menerjang pesisir Selat Sunda dan pesisir Lampung adalah bencana multievent. Jadi, erupsi Gunung Anak Krakatau hingga runtuhnya dinding lereng gunung ke laut bukan menjadi penyebab utama pemicu tsunami.

Gelombang tinggi, yang pada saat terjadinya tsunami, di langit tampak Bulan Purnama, juga menjadi penyebab tingginya ombak laut tsunami menerjang pesisir pantai Selat Sunda.

Analisa BMKG dari rekaman seismik yang tercatat, longsoran Lereng Gunung Anak Krakatau setara dengan kekuatan MLv= 3,4 yang di duga cukup kuat untuk menghasilkan tsunami hingga ke pesisir. Selain itu curah hujan tinggi pada periode waktu yang berdekatan dengan tsunami juga menjadi bukti tsunami tersebut di picu oleh longsoran akibat runtuhnya dinding lereng Gunung Anak Krakatau.

Meteotsunami di Selat Sunda

Analisa lainnya oleh Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI yang juga Peneliti Paleotsunami dan Kebencanaan, Eko Yulianto, menyebutkan bahwa yang terjadi di Selat Sunda tersebut adalah Meteotsunami, yakni
tsunami yang dipicu gangguan terhadap tekanan udara/atmosfer yang ada di atas permukaan laut/samudra.

Dalam tulisannya yang di muat di Harian Kompas 27 Desember 2018, menerangkan bahwa meteotsunami terjadi akibat perubahan tekanan atmosfer memicu terbentuknya anomali aliran gelombang udara. Saat gelombang udara tersebut bertemu dengan gelombang air laut yang memiliki kecepatan sama, pada titik itu terjadilah resonansi gelombang sehingga gelombang udara menyatu dengan gelombang air laut, bergerak bersamaan dan seolah mendorong gelombang air hingga ke pesisir.

Fenomena meteotsunami pernah terjadi juga di Laut Adriatik, Laut Mediterania, dan pantai timur Amerika, Teluk Nagasaki, Jepang, pada 1979, memicu gelombang setinggi 5 meter, serta di New Jersey (AS) pada 2013.

Meski pada umumnya energi dan ketinggian meteotsunami jauh lebih kecil daripada tsunami akibat gempa bumi, namun pada banyak kasus bisa mengakibatkan kerusakan yang cukup parah di daratan. Gelombang meteotsunami tertinggi, tercatat hingga lebih dari 6 meter terjadi pada tahun 1978 di Vela Luka, Kroasia.

Meteotsunami sangat terkait fenomena gangguan cuaca. Sayangnya, cuaca di Indonesia sudah sedemikian tak menentu akibat perubahan iklim. Angin puting beliung yang dulu sangat jarang terjadi menjadi sangat sering melanda wilayah Indonesia, bukan saja di musim hujan, melainkan juga di musim kemarau.

Fenomena meteotsunami di Selat Sunda melengkapi khazanah tsunami yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu tsunami yang dipicu gempa bumi di dasar samudra, tsunami yang dipicu letusan gunung berapi, tsunami yang dipicu longsoran bawah laut, tsunami yang kemungkinan dipicu likuefaksi di tepi laut seperti baru saja terjadi di Palu, dan meteotsunami yang terjadi di Selat Sunda.

UPDATE : Planet Labs Telah Merilis Citra Satelit Resolusi Tinggi (72 cm) Gunung Anak Krakatau Pasca Erupsi Disertai Tsunami